Kamis, 18 Juni 2009

ETIKA MEDIA MASSA DAN AGENDA MEDIA Dua kutub yang saling berebut pengaruh di balik newsroom Seorang ayah sempat bingung dan marah mendengar pertanyaan anaknya. Kemarahannya makin memuncak saat si anak dengan santainya menunjukkan objeknya: sebuah Koran bernama Lampu Merah, dengan Headline besar-besar di halaman pertama: “SEORANG BOCAH DISODOMI HINGGA BERDARAH-DARAH”. Kebingungan sang ayah bisa dimaklumi, sebagai orang tua tidak bisa dia menjelaskan apa itu ‘SODOMI’ secara jelas dan ilmiah kepada anaknya yang baru berusia sepuluh tahun. Kemarahannya wajar saja timbul, karena dia tidak mengira anak nya yang baru berangkat remaja bisa bertanya seseram itu. Ternyata si anak mendapatkan kata menyeramkan itu dari Koran kuning berjudul “ Lampu Merah” yang memang terkenal dengan gaya beritanya yang sering melanggar kode etik bahkan delik pers. Gaya berita atau stylebook Lampu Merah yang seperti itu , yang hanya memanjakan dan mengumbar nafsu rendah pembaca ini sesuai dengan agenda media. Jadi apa sebenarnya agenda media? Secara umum agenda bisa diartikan jadwal atau kepentingan, sehingga merujuk pengertian itu maka agenda media adalah kepentingan yang hendak ditonjolkan oleh media tersebut, atau pakai istilah yang lebih keren adalah ‘ideologi’ yang dianut sepenuhnya oleh media massa. Bicara soal pemberitaan media massa tidak bisa mengabaikan apa yang disebut agenda setting dan mau tidak mau harus memperhitungkan agenda media massa. Teori Agenda Setting berangkat dari asumsi dasar bahwa setiap media punya ‘agenda’ dan ditawarkan kepada khalayak sebagai sesuatu yang penting. Semakin besar ‘sesuatu’ diblowup dalam berita maka semakin ‘besar’ atau ‘penting’ wacana yang coba ditawarkan. Agenda setting merupakan salah satu pendekatan untuk memahami isi dari fokus media massa akan informasi. Pendekatan ini lebih cocok diterapkan untuk memahami isi atau informasi ketimbang materi yang bersifat entertainment.[1] Media massa merupakan sebuah kekuatan besar yang sangat diperhitungkan. Dalam berbagai analisis tentang kehidupan sosial, ekonomi dan politik, media sering ditempatkan sebagai salah satu variabel determinan, terlebih dalam posisinya sebagai suatu institusi informasi, dapat pula dipandang sebagai faktor yang paling menentukan dalam proses-proses perubahan sosial – budaya dan politik. Pers sebagai salah satu bentuk media, tentu saja mengimplikasikan fungsi mediasi antara masyarakat dengan dunia. Jurnalistik sebagai salah satu jenis kegiatan dari komunikasi massa yang membakukan tata cara pelaksanaan pers mencari dan menyebarkan informasi, selalu mengembangkan pelbagai teknik peliputan dan pendistribusian muatan pesan yang dipengaruhi dan sekaligus merefleksikan realitas kultur masyarakat.[2] Sebagai saluran penyampai informasi, media massa memiliki kemampuan untuk memutuskan apa yang harus diliput, bagaimana cara meliputnya dan menampilkan dalam surat kabar. Dalam teori agenda setting, apa yang disebut sebagai agenda media menjelaskan bahwa media massa memiliki kegiatan menyusun, memunculkan isu, dan menempatkan isu tersebut dengan tujuan untuk mempengaruhi apa yang dianggap penting oleh khalayak. Asumsinya adalah bahwa media massa menyaring berita, artikel, atau tulisan yang akan disiarkannya, Secara selektif, “gatekeepers” seperti penyunting, redaksi, bahkan wartawan sendiri menentukan mana yang pantas diberitakan dan mana yang harus disembunyikan. Setiap kejadian atau isu diberi bobot tertentu dengan panjang penyajian (ruang dalam surat kabar, waktu pada televisi dan radio) dan cara penonjolan (ukuran judul, letak pada surat kabar, frekuensi pemuatan, posisi dalam surat kabar).[3] Werner J. Severin dengan James W. Tankard mengutip pendapat Kurt Lang dan Gladys Engel Lang tentang agenda setting bahwa media massa mengarahkan perhatian khalayak kepada isu-isu tertentu. Media massa secara teratur dan berkesinambungan mengarahkan dan mempengaruhi tiap individu pengkonsumsi media untuk berpikir, mengetahui, dan mempunyai perasaan tertentu terhadap suatu obyek (should think about; know about; have feeling about).[4] Asumsi-asumsi ini menunjukkan bahwa ketika media memberikan penonjolan dengan teknik-teknik tertentu terhadap pemberitaan tentang sesuatu obyek, berarti media hendak membentuk persepsi khalayak bahwa isu tersebut merupakan hal yang penting. Jika surat kabar memberitakan suatu peristiwa atau seorang tokoh di halaman depan dengan ukuran headline yang besar, apalagi dilakukan secara terus-menerus dalam jangka waktu tertentu, maka khalayak akan beranggapan bahwa peristiwa atau tokoh tersebut penting untuk disimak atau diketahui

0 komentar:

Posting Komentar

 

are_u mail. Design By: SkinCorner